
HONG KONG — Tim Indonesia menutup perjuangannya pada Southeast Asian Amateur Golf Team Championships 2026 di Hong Kong Golf Club, Fanling, Hong Kong, dengan torehan prestasi penting dari sektor putri. Jennifer Quinn berhasil keluar sebagai juara individu Kartini Cup, sementara tim Indonesia meraih posisi first runner-up pada kategori beregu.
Pencapaian tersebut menjadi catatan bersejarah bagi golf Indonesia. Gelar juara individu yang diraih Jennifer yang baru berusia 14 tahun menjadi pencapaian terbaik Indonesia dalam 11 tahun sejarah penyelenggaraan Kartini Cup. Jennifer juga tercatat sebagai atlet termuda Indonesia yang tampil pada kejuaraan tahun ini.
Kejuaraan yang berlangsung selama empat hari ini mempertandingkan empat kategori, yakni 63rd Putra Cup, 17th Lion City Cup, 15th Santi Cup, dan 11th Kartini Cup.
Indonesia mengirimkan 13 pegolf untuk bertanding di empat kategori tersebut. Pada Putra Cup, Indonesia diperkuat Kenneth Henson Sutianto, Jaya Wardana Dornan, Theodore Pradjoto Citoputra Tan, dan Margoz Marvin Kamengmau. Sementara di Lion City Cup terdapat Asyrafa Danish Suryanto, Eugene E. Tanyongjaya, dan William Justin Wijaya.
Pada Santi Cup, Indonesia menurunkan Isabella Sudarmanto, Sania Talita Wahyudi, dan Lydia H. Sitorus. Sedangkan di Kartini Cup, tim putri diperkuat Jennifer Quinn Effendi, Abigail Rhea Soeryo W, dan Maureen S. Jose.
Menariknya, tiga pemain Indonesia menjalani debut pada kejuaraan ini, yakni Jennifer Quinn, Margoz, dan Asyrafa. Kehadiran mereka menjadi bagian dari proses regenerasi pegolf amatir Indonesia di level internasional.
Memasuki persaingan empat hari di Hong Kong Golf Club, para pemain Indonesia menghadapi karakter lapangan yang membutuhkan ketepatan strategi dan konsistensi permainan. Kondisi lapangan dengan sejumlah area yang menuntut penempatan bola secara presisi menjadi tantangan tersendiri, termasuk hole 5 yang memiliki keberadaan pohon dan bunker di sekitar area permainan.
Pada Putra Cup, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan selama empat ronde pertandingan. Jaya Wardana hanya mampu tampil hingga round kedua setelah kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan.
Kenneth menjelaskan bahwa Jaya harus mengambil keputusan untuk withdraw setelah round kedua karena kondisi kesehatan. Situasi tersebut membuat komposisi tim Putra Cup Indonesia harus melanjutkan perjuangan dengan pemain yang tersedia.
“Selama empat hari ini kami sebenarnya berempat, tetapi Jaya hanya sanggup main dua round setelah kondisi fisiknya tidak begitu baik. Setelah round kedua, Jaya memutuskan untuk withdraw,” ujar Kenneth.
Kenneth sendiri menilai kejuaraan ini memberikan pengalaman penting dalam menghadapi persaingan di level regional. Meski permainannya belum maksimal, ia berusaha mempertahankan skor dengan kondisi permainan yang ada.
“Mungkin saya memukul tidak sebagus biasanya, tetapi saya berusaha main menahan skor dengan pukulan seadanya,” katanya.
Margoz yang menjalani debut di kejuaraan ini juga mendapatkan pengalaman penting selama empat hari pertandingan. Ia menilai kondisi fisik menjadi salah satu hal yang perlu lebih diperhatikan, selain putting dan tee shot.
“Ini turnamen yang penting dan menjadi pengalaman besar bagi saya. Saya harus lebih bisa menjaga kesehatan tubuh. Dari permainan, putting dan shot dari tee juga masih kurang bagus,” ujar Margoz.
Sementara Theodore Pradjoto Citoputra Tan atau Theo berhasil menutup final round dengan penampilan yang lebih baik setelah mengalami kesulitan pada tiga ronde sebelumnya. Ia mencatatkan skor 2-under pada putaran terakhir.
“Round pertama sampai ketiga banyak struggle di putting dan tee shot. Hari terakhir bisa bounce back dan main 2-under. Perasaannya senang,” ujar Theo.
Beralih ke Lion City Cup, Indonesia menurunkan Asyrafa, Eugene, dan William. Ketiganya menyelesaikan perjuangan dengan sejumlah catatan yang akan menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi turnamen berikutnya.
Bagi Asyrafa, yang menjalani debut di ajang ini, kepercayaan diri menjadi salah satu aspek yang ingin terus ditingkatkan. Ia juga menilai latihan yang lebih konsisten diperlukan agar lebih yakin terhadap keputusan yang diambil di lapangan.
“Saya harus lebih percaya diri dengan shot dan lebih banyak latihan supaya lebih percaya dengan keputusan yang saya ambil di lapangan,” ujar Asyrafa.
William mengakui performanya belum maksimal selama empat ronde. Ia menilai kepercayaan diri dan pola pikir positif menjadi hal yang perlu diperkuat.
“Saya merasa harus lebih positif dan optimis dengan diri sendiri. Kalau lebih percaya diri, mungkin hasil permainan bisa lebih bagus,” kata William.
Sementara Eugene menilai dirinya perlu lebih mampu menjaga fokus, terutama ketika berada di area putting.
“Jangan terlalu banyak berpikir saat putting. Saya harus stay in the moment dan tidak terlalu banyak memikirkan hal lain,” ujarnya.
Di Santi Cup, Isabella, Sania, dan Lydia juga menghadapi persaingan yang ketat selama empat hari. Bagi Sania, turnamen ini menjadi pengalaman pertamanya bermain di Hong Kong. Ia mengaku masih menghadapi sejumlah kendala, terutama pada tee shot dan putting.
“Banyak struggle di tee off karena beberapa kali mishit. Ada juga birdie chances, tetapi putting masih banyak yang miss. Itu menjadi evaluasi saya untuk ke depannya,” ujar Sania.
Lydia juga menjadikan turnamen ini sebagai bahan evaluasi. Ia menilai kemampuan short game masih menjadi salah satu aspek yang perlu ditingkatkan setelah melihat persaingan dengan pemain-pemain muda dari negara lain.
“Saya melihat banyak pemain yang lebih muda dan sudah bermain bagus. Saya juga masih banyak yang harus di-improve, terutama short game,” kata Lydia.
Sementara Isabella, yang baru pertama kali bermain di Hong Kong, membawa pengalaman positif dari kejuaraan tersebut. Ia mengaku mendapatkan banyak pembelajaran, khususnya setelah mengalami kesulitan pada putting.
“Ini pertama kalinya saya main di Hong Kong. Sangat menyenangkan dan saya belajar banyak. Minggu ini saya cukup kesulitan di putting, terutama di area green,” ujar Isabella.
Perhatian kemudian tertuju pada Kartini Cup, tempat Indonesia berhasil mencatatkan prestasi paling menonjol melalui Jennifer Quinn, Abigail Rhea, dan Maureen.
Jennifer tampil impresif sepanjang kejuaraan hingga akhirnya berhasil mengamankan gelar juara individu Kartini Cup. Selain pencapaian tersebut, Indonesia juga berhasil menduduki posisi first runner-up pada klasemen beregu.
Bagi Jennifer, kesempatan tampil di kejuaraan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus pengalaman berharga bersama dua rekan satu timnya.
“Saya bangga bisa terpilih bermain di event sebesar ini dan bersyukur bisa satu tim dengan Kak Abigail dan Kak Maureen,” ujar Jennifer.
Sebagai pemain termuda Indonesia di kejuaraan ini, Jennifer juga menjadikan penampilan para pemain lain sebagai motivasi untuk terus meningkatkan permainannya, khususnya pada putting. Ia berharap dapat terus berkembang dari sisi fisik, mental, pukulan, dan short game.
“Saya ingin lebih dewasa dalam bermain, meningkatkan fisik dan mental, serta meng-improve pukulan dan short game agar ke depannya bisa membawa nama baik Indonesia,” katanya.
Abigail, yang sudah dua kali bermain di Hong Kong, melihat karakter lapangan pada kejuaraan kali ini berbeda dengan pengalaman sebelumnya. Menurutnya, lapangan yang digunakan kali ini lebih pendek dibandingkan Old Course yang pernah ia mainkan.
Meski sempat menjalani ronde yang tidak sesuai ekspektasi, Abigail menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran untuk menjaga ketenangan dan segera kembali fokus pada permainan.
“Saya belajar untuk tetap tenang saat bermain. Jangan terlalu kepikiran, move on from the past, dan lanjutkan permainan karena masih ada round berikutnya untuk memperbaiki game,” ujar Abigail.
Sementara Maureen mengaku mendapatkan banyak pembelajaran dari para pemain yang tampil di kejuaraan tersebut, khususnya dalam hal putting dan kemampuan memukul bola lebih jauh.
“Saya belajar banyak dari top players di sini, bagaimana putting mereka dan bagaimana mereka bisa memukul jauh. Itu cukup membuka mata saya,” kata Maureen.
Hole 5 menjadi salah satu tantangan yang paling diingat Maureen selama kejuaraan. Setelah mengalami kesulitan pada tiga ronde awal, ia akhirnya mampu mengatasi tantangan tersebut pada final round.
“Hari pertama, kedua, dan ketiga saya struggle banget di hole 5, tetapi hari ini akhirnya bisa mengatasi itu,” ujarnya.
Keberhasilan Jennifer merebut gelar individu sekaligus membawa tim Indonesia meraih posisi first runner-up menjadi pencapaian penting bagi golf putri Indonesia. Hasil tersebut juga menorehkan catatan terbaik Indonesia dalam 11 tahun perjalanan Kartini Cup.
“Tim nasional golf Indonesia telah menyelesaikan keikutsertaannya selama empat hari di Hong Kong dengan torehan prestasi terbaik sepanjang 11 tahun sejarah penyelenggaraan Kartini Cup. Jennifer berhasil meraih juara pertama di kategori individu, sementara tim putri Indonesia menyabet posisi first runner-up di kategori beregu,” ujar Alga Topan, Coach Tim Indonesia.
Meski kategori Putra Cup, Lion City Cup, dan Santi Cup belum berhasil menembus posisi podium, Alga tetap mengapresiasi perjuangan seluruh atlet Indonesia yang telah tampil selama empat hari. Hasil dari Hong Kong dinilai menjadi bahan evaluasi penting bagi tim untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.
“Meski tim lain seperti Santi Cup, Lion City, dan tim putra belum berhasil menembus posisi podium, perjuangan seluruh atlet tetap kami apresiasi. Hasil ini menjadi bahan evaluasi penting untuk mempersiapkan diri lebih matang menyambut Asian Cup 2027, di mana Indonesia akan bertindak sebagai tuan rumah,” kata Alga.
Pencapaian Jennifer dan tim Kartini Cup juga mendapat apresiasi dari Sekretaris Jenderal PB PGI Suharsono. Menurutnya, hasil tersebut menjadi gambaran positif dari perkembangan golf amatir Indonesia sekaligus buah dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Prestasi Jennifer Quinn dan tim Kartini Cup menjadi kabar yang membanggakan bagi golf Indonesia. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pembinaan atlet golf nasional terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat Asia Tenggara. Kami mengapresiasi perjuangan seluruh atlet dan tim pelatih yang telah membawa nama Indonesia di ajang ini,” ujar Suharsono, Sekretaris Jenderal PB PGI.
Suharsono menambahkan, pengalaman yang didapat seluruh atlet di Hong Kong akan menjadi bagian dari evaluasi untuk menghadapi agenda kompetisi selanjutnya, terlebih Indonesia akan menjadi tuan rumah pada Asian Cup 2027.
“Hasil ini juga menjadi bagian dari proses evaluasi dan pembelajaran bagi seluruh tim. Kami berharap pengalaman yang didapat di Hong Kong dapat menjadi modal untuk terus meningkatkan prestasi, terlebih Indonesia akan menjadi tuan rumah pada Asian Cup 2027 mendatang,” lanjut Suharsono.
Dengan berakhirnya final round di Hong Kong Golf Club, Tim Indonesia resmi menutup perjuangannya pada Southeast Asian Amateur Golf Team Championships 2026. Gelar juara individu Kartini Cup melalui Jennifer Quinn serta posisi first runner-up beregu menjadi pencapaian utama Indonesia dalam kejuaraan tahun ini.
Di sisi lain, kehadiran tiga debutan—Jennifer Quinn, Margoz, dan Asyrafa—menjadi bagian dari regenerasi yang tengah berjalan di tubuh golf amatir Indonesia. Pengalaman mereka tampil di panggung Asia Tenggara menjadi bekal untuk menghadapi persaingan di masa mendatang.
Perjalanan di Hong Kong kini menjadi modal bagi Tim Indonesia untuk menatap agenda berikutnya. Terlebih, pada Asian Cup 2027, Indonesia akan bertindak sebagai tuan rumah dan kembali memiliki kesempatan untuk menunjukkan perkembangan golf nasional di hadapan publik sendiri.
