
Auckland, 28 Oktober 2026 – Dua hari Official Practice sudah selesai, dan tim Indonesia mendapat kabar menggembirakan sebelum turnamen dimulai. Jayawardana Dornan mencetak albatros di hole 7 par 5 pada Official Practice terakhir. Besok, Kamis, enam pegolf amatir Indonesia akan memulai Round 1 Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2026 di Te Arai Links, Selandia Baru.
Skuad Merah Putih diperkuat Randy Bintang, Rayhan Latief, Asa Najib Bhakti, Jayawardana Dornan, Kenneth Sutianto, dan William Justin. Mereka akan menghadapi para amatir terbaik Asia-Pasifik di edisi ke-17 turnamen bergengsi ini.
Hadiah AAC sangat besar. Sang juara mendapat tiket ke dua major sekaligus pada tahun depan, yakni Masters dan The Open. Karena itu turnamen ini jadi incaran amatir dari seluruh kawasan.
Kabar paling menarik datang dari Jayawardana Dornan. Setelah tee shot dengan driver, ia melepaskan pukulan kedua dengan 3 iron yang langsung masuk ke hole. Skor tiga di bawah par ini sangat langka di golf. Meski baru sebatas latihan, momen itu menjadi suntikan semangat bagi tim Indonesia jelang Round 1. Jayawardana sendiri memilih pendekatan santai. “Target saya have fun dulu. Kalau bisa, top 10, tapi tidak ada ekspektasi. Mau enjoy the experience,” ujarnya.

Prestasi terbaik Indonesia di AAC dicatat George Gandranata, yang finis tied ke-17 (T17) di Singapura pada 2011. Rayhan Latief menyamai capaian itu di Dubai tahun lalu. Tahun ini keduanya ingin memecahkan rekor tersebut.
Randy Bintang, yang tampil untuk keempat kalinya, membawa pengalaman berharga. Dua tahun lalu di Jepang ia menjadi first-round leader dan akhirnya finis T19, hasil terbaiknya di AAC. Ia sempat bersaing di papan atas hingga akhir pekan.
“Turnamen ini spesial karena memberi kesempatan bermain di Masters dan The Open. Untuk negara seperti Indonesia, ini bisa jadi sejarah kalau ada satu pemain yang tampil di sana,” ujar Randy.
Dari pengalaman di Jepang itu, Randy belajar untuk fokus pada permainannya sendiri. “Mainkan game sendiri, jangan lihat pemain lain. Fokus step by step, bukan pada hasil,” katanya.
Soal persiapan, ia merasa tim sudah siap. “Kami sudah practice round dua kali. Menurut saya sudah cukup matang. Semua green dan fairway sudah kami hafalkan,” ujarnya. Ia juga menegaskan target tahun ini adalah menang. “Pasti saya put all efforts into it. Doakan juga semua pemain Indonesia bisa tampil bagus di AAC tahun ini.”
Rayhan Latief (19), mahasiswa tingkat dua University of North Texas, kini memasuki start kelimanya di AAC. Ia menyebut ball-striking dan permainan iron sebagai kekuatannya, tetapi lapangan ini menuntut semua aspek. “Ini lapangan yang sangat sulit. Butuh ball-striking dan short game yang bagus,” katanya.
Menurut Rayhan, dua hari terakhir dipakai untuk mengenali lapangan sebaik mungkin. “Kami sudah berlatih di green-nya dan mengenali tee shot di hole-hole yang akan dimainkan,” ujarnya. Targetnya jelas: “Insyaallah menang.”
Ia juga selalu punya motivasi di turnamen ini. “Saya selalu bilang ke diri sendiri: fokus pada proses, nikmati prosesnya, dan perhatikan detail,” tuturnya. Rayhan berterima kasih kepada pelatihnya, Luke Calcatera dan Joseph Kirk, yang terus mendorong tim bekerja keras dan berkembang sebagai pribadi.
Te Arai Links menyuguhkan tantangan khas lapangan links. Sebanyak 16 hole menghadap langsung ke Samudra Pasifik, dengan pemandangan indah tetapi angin yang bisa berubah-ubah.
Kenneth Sutianto menilai kondisi lapangan cukup bagus, namun penuh jebakan. “Anginnya tricky, slope di green cukup menantang, dan fairway-nya keras,” ujarnya. William Justin punya penilaian serupa: lapangan oke, tetapi tantangan ada pada angin dan permainan di green.
Untuk Asa Najib Bhakti, turnamen ini menjadi pengalaman pertama di links course. Ia mengaku banyak belajar dari Randy selama dua hari latihan. “Targetnya top 20, semoga bisa,” katanya. Kenneth juga menargetkan 20 besar, dengan lolos cut sebagai langkah pertama.
Pelatih tim Indonesia, Alga Topan, menilai persiapan para pemain sudah berjalan sesuai rencana. “Selama dua hari Official Practice, anak-anak sudah mengenali karakter lapangan, terutama angin dan kontur green-nya. Yang terpenting sekarang adalah menjaga fokus dan disiplin menjalankan game plan di setiap hole. Target mereka berbeda-beda, tetapi semangatnya sama, yaitu memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” ujar Alga.
Persaingan tidak akan mudah. Peserta tahun ini antara lain juara bertahan Fifa Laopakdee (Thailand), Taisei Nagasaki (Jepang), Joshua Bai (Selandia Baru), Jaden Dumdumaya (Filipina), dan Zhou Zhiqin (China).
Dengan persiapan yang dianggap matang dan target yang beragam, dari menikmati pengalaman hingga menjadi juara, enam pegolf Indonesia siap membuka perjuangan besok di Te Arai Links.
PB PGI berharap seluruh pemain mampu tampil lepas dan memberikan yang terbaik di lapangan. Apa pun hasilnya, mereka membawa nama Indonesia di panggung amatir terbesar Asia-Pasifik. PB PGI mengajak seluruh pencinta golf tanah air untuk mendoakan dan mendukung perjuangan para pemain lewat media sosial dan kanal resmi PB PGI.
Ke depan, PB PGI juga mengajak pemerintah, sponsor, dan para pelaku industri golf untuk bersama-sama mendukung pembinaan atlet muda. Dukungan yang berkelanjutan, baik dari sisi pendanaan, fasilitas latihan, maupun kesempatan bermain di level internasional, dinilai penting agar Indonesia bisa terus melahirkan pegolf yang mampu bersaing di tingkat dunia.