PBPGI

Auckland, 1 November 2026 – Rayhan Latief mencatatkan sejarah baru bagi golf Indonesia. Pegolf amatir 19 tahun itu finis di posisi tied ke-16 (T16) pada Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2026 di Te Arai Links, Selandia Baru. Ini menjadi hasil terbaik Indonesia sepanjang sejarah turnamen.

Rayhan menyelesaikan empat ronde dengan total 291 pukulan atau +7, dengan rincian 73, 75, 70, dan 73. Capaian ini satu peringkat lebih baik dari T17 miliknya di Dubai tahun lalu, yang sebelumnya menyamai rekor George Gandranata di Singapura pada 2011.

Di ronde final, Rayhan membuka permainan dengan baik lewat birdie di hole 4. Namun angin kencang di sembilan hole terakhir membuatnya kehilangan tiga pukulan, sehingga ia menutup ronde dengan skor 73 atau 2-over.

Posisi akhir ini juga menunjukkan kebangkitan yang konsisten. Setelah Round 2, Rayhan berada di T25. Skor 70 di Round 3, ronde terbaiknya pekan ini, mendorongnya naik hingga masuk 16 besar.

Rayhan mengaku puas sekaligus mengambil banyak pelajaran dari Te Arai Links. “Ini pengalaman baru bermain di lapangan links yang sesungguhnya, dengan kondisi yang cukup berat dalam beberapa hari terakhir. Jelas ini pelajaran berharga buat saya dan karier saya,” ujarnya.

Ia juga mengevaluasi permainannya dengan jujur. “Saya membuang beberapa pukulan di hole par 5, padahal seharusnya bisa dihindari. Pelajaran dari pekan ini, saya harus lebih melatih tee shot,” kata Rayhan, yang tampil lima kali beruntun di AAC.

Rayhan sudah menatap edisi berikutnya. AAC 2027 akan digelar di Hoiana Shores, Vietnam, untuk pertama kalinya. “Saya seratus persen menantikan tahun depan. Dengar-dengar lapangannya tidak sekeras di sini, tapi tetap akan memberi gambaran tantangannya,” ujarnya.

Dua pegolf Indonesia lain juga menuntaskan empat ronde. Randy Bintang finis di T46 dengan total 303 atau +19. Setelah melewati Round 2 yang berat dengan skor 82, Randy menunjukkan perbaikan dengan 75 di Round 3 dan 73 di ronde final.

Jayawardana Dornan menutup turnamen di T48 dengan total 305 atau +21. Ia tampil sangat stabil dengan skor 76, 76, 77, dan 76. Konsistensi itu patut diapresiasi di lapangan links yang menuntut seperti Te Arai.

Tiga pegolf lain, Kenneth Sutianto, William Justin, dan Asa Najib Bhakti, memang berhenti di babak penyisihan. Namun mereka membawa pulang pengalaman bermain di lapangan links kelas dunia melawan amatir terbaik Asia-Pasifik.

Di puncak klasemen, juara bertahan Fifa Laopakdee dari Thailand sukses mempertahankan gelar. Pegolf 21 tahun itu mencetak 70 di ronde final dan menang tiga pukulan atas pemimpin Round 3, Zack Swanwick dari Selandia Baru, yang menutup dengan 75.

Dengan kemenangan ini, Fifa kembali mengantongi tiket ke Masters dan The Open tahun depan. Ia menjadi pemain kedua yang berhasil mempertahankan gelar AAC setelah Hideki Matsuyama dari Jepang pada 2010 dan 2011.

Fifa tak kuasa menahan air mata saat penyerahan trofi. Ia mengaku tahun ini berat karena performanya kurang baik, dan kemenangan ini menjadi pembuktian bagi dirinya sendiri.

PB PGI memberi apresiasi tinggi kepada seluruh pemain dan tim pendamping atas perjuangan selama satu pekan di Te Arai Links. Capaian Rayhan menjadi bukti bahwa pegolf Indonesia mampu bersaing di level atas amatir Asia-Pasifik.

PB PGI akan terus mendukung pembinaan atlet muda agar Indonesia semakin dekat dengan target besar, yaitu menempatkan wakilnya di panggung Masters dan The Open. PB PGI juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pencinta golf tanah air yang telah mendoakan dan mendukung perjuangan para pemain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *